Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Jakarta di Penghujung Hari

 Jakarta di Penghujung Hari Dekapanmu semakin merenggang diiringi waktu yang mulai berdentang Kau bilang aku adalah malaikat tetapi mengapa kau jatuhkan aku hingga sekarat? Kau bilang aku adalah rembulan tetapi mengapa kau biarkan aku tenggelam dalam kegelapan? Sayang, jangan ucapkan kata manis jika hanya berakhir dengan tangis Sayang, jangan ucapkan kata cinta jika tak pernah ada kita Jakarta di penghujung hari ketika hatimu memilih untuk mengakhiri

Jika hari ini aku mati, akankah kau hadir di pemakamanku?

 Jika hari ini aku mati, akankah kau hadir di pemakamanku? Akankah kau hadir dengan kaus hitam usang yang sering kali kau pakai saat kita bertatap muka atau kau lebih memilih menggunakan baju koko membosankan agar tak tampak asing untuk semua?  Akankah kau tampil dengan kacamata hitam demi menutupi sembab matamu yang memerah atau kau lebih membiarkannya terpampang nyata yang lantas menjadi topik hangat seminggu kemudian? Akankah kau datang dengan sekuntum mawar yang kau beli sebelum datang atau kau lebih memilih memetik lily yang kau tanam di pekarangan rumah? Akankah kau menghaturkan makam ku dengan doa-doa yang diajarkan di sekolah atau kau lebih memilih mengucap sumpah serapah yang tak pernah tersampaikan? Apapun itu tak jadi masalah. Toh bukan berarti aku masih bisa melihat, mencium, mendengar, atau bahkan merasakan wujud kehadiranmu setelah tubuhku ditanam dalam dinginnya tanah bekas hujan semalam.  Paling-paling yang tersisa hanyalah seuntai kenangan, memori paling ...

Fallen Angel

Fallen Angel At first I thought you're an angel who tried to save me from pitch of hell, but I forgot that no one in heaven is willing to save me. So you're just standing there, smiling while watching me suffering from step by step that I took to reach you, because loving you was the biggest sin that I've ever done. -MM-

Usai

 Usai Setidaknya aku tidak kehilanganmu seperti Aphrodite kehilangan Adonisnya, atau seperti Apollo yang kehilangan Daphnenya. Setidaknya aku masih dapat melihatmu bernafas dengan lega, menyusuri jalan yang dulu kita lalui bersama. Bersama, sebuah kata yang aku harap dapat menghantarkan kita ke peraduan, nyatanya malah menghantarkan kita ke pemakaman 'tuk menguburkan kisah kita yang telah usai. -MM-

Titik Nadir

Titik Nadir Ada tangisku yang pecah setiap malam menjelang fajar diatas bantal merah tempatku terlelap. Ada rentetan suara yang terpaksa kubungkam dihadapan realita dengan rasa sakitnya tanpa pernah bisa terungkap. Tapi pada akhirnya ratusan suara itu telah menjelma menjadi nyanyian duka yang mengiringi setiap detik kehidupan, dan aku sebatas jiwa tersesat tanpa rumah berpulang. Untuk siapa setiap air mata juga sumpah serapah yang aku ucapkan? Apakah untukmu sang pemutus asa atau untuk diriku sendiri yang berlumur dosa? Bukankah aku begitu getir terhadap takdir? Mencoba menanam kasih disaat hatiku mati ditikam benci. Jika sedikit lagi aku segera ditimbun langit. Jangan salahkan bumi menyabda sedih. Karena lihatlah aku. Sekali lagi lihatlah aku yang merintih dilantai penuh duri. Perihal malaikat dan iblis didalam diri,  aku benar-benar tak peduli. Biarkan kisahku mengalir hingga akhir, menyisakan tanya diantara sunyi dan sepi. -MM-

Setelah Kau Beranjak

Setelah Kau Beranjak Setelah kau beranjak, bisa jadi aku akan kembali mengamini setiap laki-laki fiksi yang dirangkai diksi-diksi klasik atau mungkin aku justru sibuk menangisi idol korea yang kerap kali kau juluki "plastik". Setelah kau beranjak, bisa jadi aku masih larut diantara buku-buku fantasi yang tak pernah kau pahami, demi menampik memori sendu yang berkelana menapaki sunyi. Setelah kau beranjak, bisa jadi aku masih tidur menjelang pagi. Tapi alih-alih sibuk menjajaki rasa sepi, aku mungkin sibuk bergumul dengan pikiran yang seenaknya mengantarkan rindu yang bermukim, sebab atensiku masih terpaku pada seutas perih. Setelah kau beranjak, bisa jadi aku tetaplah aku atau mungkin aku bukanlah aku. Tapi bagaimanapun itu, tak perlu kau hiraukan lagi. -MM-

Tentang Sahur Jam 3

Tentang Sahur Jam 3 Tentang pikiranku yang mengembara seraya meniti jejak hadirmu yang mulai melesap tersapu rintik hujan semalam. Tentang sebatang rokok yang tak sempat kau nyalakan sebab sibuk berkilah, bergulat dengan dirimu yang tak pernah puas. Tentang alunan musik yang kerap kali kau lantunkan, kini menyisakan sunyi senyap sebab dirampas gemuruh angin yang menghujam. Tentang sahur jam 3, tentang kita yang tak lagi bersua, tentang aku yang dihuni bersalah, dan tentang arti sebuah perpisahan. -MM-

Puisi Tiga Baris

Puisi Tiga Baris Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika aku menangis alih-alih menggosok gigi setelah mandi. Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika aku menghayati tragedi sunyi yang mengiringi gelap sepi alih-alih sibuk melarut dalam mimpi. Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika hatimu memilih pergi tanpa kembali alih-alih menepati janji yang terpatri. -MM-