Langsung ke konten utama

Puisi Tiga Baris

Puisi Tiga Baris

Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika aku menangis alih-alih menggosok gigi setelah mandi.

Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika aku menghayati tragedi sunyi yang mengiringi gelap sepi alih-alih sibuk melarut dalam mimpi.

Ini adalah puisi tiga baris yang ditulis ketika hatimu memilih pergi tanpa kembali alih-alih menepati janji yang terpatri.

-MM-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jakarta di Penghujung Hari

 Jakarta di Penghujung Hari Dekapanmu semakin merenggang diiringi waktu yang mulai berdentang Kau bilang aku adalah malaikat tetapi mengapa kau jatuhkan aku hingga sekarat? Kau bilang aku adalah rembulan tetapi mengapa kau biarkan aku tenggelam dalam kegelapan? Sayang, jangan ucapkan kata manis jika hanya berakhir dengan tangis Sayang, jangan ucapkan kata cinta jika tak pernah ada kita Jakarta di penghujung hari ketika hatimu memilih untuk mengakhiri

Teruntuk Temanku

 Teruntuk Temanku Teruntuk temanku, jika ada yang paling aku sesali dalam hidup ialah meninggalkanmu di sela-sela anganku yang jatuh menyeluruh.  Tetapi selayaknya semilir angin yang mengiringi tiap-tiap hembusan nafasmu, semoga surat dengan sekuntum rindu milikku mampu menggapaimu dengan lembut. Temanku, ketahuilah bahwa setelah sekian lama mengukir imaji di atas pembebasan yang kalut, kini di tengah-tengah titik nadir aku sekali lagi tersungkur.  Rupanya bumi betul-betul menyemaiku hanya untuk hanyut dalam lautan duka yang tersulut, sedangkan aku tak lebih dari cecunguk lugu yang merangkai bait-bait sendu. Dan meskipun hadirmu tak ayal menabur cemburu pada histeriaku yang berkecamuk, namun terhadapmu akan kutabirkan sejuta haru, sejuta pilu. Temanku, kendatipun waktu tak memberiku ampun 'tuk sekadar mengecap manis belas kasihmu, telah kukirimkan segenggam harap dibalut tangis juga seikat ragu untukmu.  Kiranya kau dan aku kembali bertemu, akan kukisahkan padamu seo...

Jika hari ini aku mati, akankah kau hadir di pemakamanku?

 Jika hari ini aku mati, akankah kau hadir di pemakamanku? Akankah kau hadir dengan kaus hitam usang yang sering kali kau pakai saat kita bertatap muka atau kau lebih memilih menggunakan baju koko membosankan agar tak tampak asing untuk semua?  Akankah kau tampil dengan kacamata hitam demi menutupi sembab matamu yang memerah atau kau lebih membiarkannya terpampang nyata yang lantas menjadi topik hangat seminggu kemudian? Akankah kau datang dengan sekuntum mawar yang kau beli sebelum datang atau kau lebih memilih memetik lily yang kau tanam di pekarangan rumah? Akankah kau menghaturkan makam ku dengan doa-doa yang diajarkan di sekolah atau kau lebih memilih mengucap sumpah serapah yang tak pernah tersampaikan? Apapun itu tak jadi masalah. Toh bukan berarti aku masih bisa melihat, mencium, mendengar, atau bahkan merasakan wujud kehadiranmu setelah tubuhku ditanam dalam dinginnya tanah bekas hujan semalam.  Paling-paling yang tersisa hanyalah seuntai kenangan, memori paling ...