Titik Nadir
Ada tangisku yang pecah setiap malam menjelang fajar diatas bantal merah tempatku terlelap.
Ada rentetan suara yang terpaksa kubungkam dihadapan realita dengan rasa sakitnya tanpa pernah bisa terungkap.
Tapi pada akhirnya ratusan suara itu telah menjelma menjadi nyanyian duka yang mengiringi setiap detik kehidupan, dan aku sebatas jiwa tersesat tanpa rumah berpulang.
Untuk siapa setiap air mata juga sumpah serapah yang aku ucapkan?
Apakah untukmu sang pemutus asa atau untuk diriku sendiri yang berlumur dosa?
Bukankah aku begitu getir terhadap takdir?
Mencoba menanam kasih disaat hatiku mati ditikam benci.
Jika sedikit lagi aku segera ditimbun langit.
Jangan salahkan bumi menyabda sedih.
Karena lihatlah aku.
Sekali lagi lihatlah aku yang merintih dilantai penuh duri.
Perihal malaikat dan iblis didalam diri,
aku benar-benar tak peduli.
Biarkan kisahku mengalir hingga akhir, menyisakan tanya diantara sunyi dan sepi.
-MM-

Komentar
Posting Komentar