Jika hari ini aku mati, akankah kau hadir di pemakamanku?
Akankah kau hadir dengan kaus hitam usang yang sering kali kau pakai saat kita bertatap muka atau kau lebih memilih menggunakan baju koko membosankan agar tak tampak asing untuk semua?
Akankah kau tampil dengan kacamata hitam demi menutupi sembab matamu yang memerah atau kau lebih membiarkannya terpampang nyata yang lantas menjadi topik hangat seminggu kemudian?
Akankah kau datang dengan sekuntum mawar yang kau beli sebelum datang atau kau lebih memilih memetik lily yang kau tanam di pekarangan rumah?
Akankah kau menghaturkan makam ku dengan doa-doa yang diajarkan di sekolah atau kau lebih memilih mengucap sumpah serapah yang tak pernah tersampaikan?
Apapun itu tak jadi masalah. Toh bukan berarti aku masih bisa melihat, mencium, mendengar, atau bahkan merasakan wujud kehadiranmu setelah tubuhku ditanam dalam dinginnya tanah bekas hujan semalam.
Paling-paling yang tersisa hanyalah seuntai kenangan, memori paling berisik yang mungkin suatu hari nanti tak kau dengar lagi gemanya. Tapi tak apa. Bukankah hidup memang tak lebih dari kaset jadul yang diputar semalaman. Akan hilang, semakin hilang, dan selamanya menghilang.
-MM-

Komentar
Posting Komentar